Daerah  

Hadapi Kemarau, Bupati Sumenep Prioritaskan Perlindungan Sektor Pertanian

FOTO: Bupati Sumenep, Achmad Fauzi Wongsojudo (dok./Is)

SUMENEP, beritakan.co.id – Pemerintah Kabupaten Sumenep menjadikan perlindungan sektor pertanian sebagai prioritas utama dalam menghadapi musim kemarau. Instruksi itu disampaikan langsung Bupati Achmad Fauzi Wongsojudo kepada seluruh OPD terkait.

Langkah ini diambil untuk menjaga stabilitas produktivitas petani. Mengingat sebagian besar warga Sumenep masih menggantungkan hidup dari bertani.

“Pemkab meminta seluruh jajaran bergerak lebih cepat dan mengoptimalkan sinergi antarinstansi. Potensi masalah selama kemarau harus ditangani sejak dini agar tidak meluas dan mengganggu usaha tani,” tegas Fauzi, pada Jum’at, (10/10).

Bupati menekankan tiga aspek krusial yang wajib dipenuhi:
1. Ketersediaan air: Normalisasi embung dan pengeboran sumur pertanian
2. Pemeliharaan jaringan irigasi: Rehabilitasi saluran irigasi tersier
3. Jaminan keberlanjutan produksi pangan: Pencegahan gagal tanam

Ketiga hal ini disebut sebagai fondasi utama perekonomian masyarakat Sumenep.

Karakteristik Sumenep sebagai wilayah kepulauan membuat air jadi tantangan terbesar saat kemarau. Beberapa kecamatan di daratan dan kepulauan kerap mengalami defisit air baku untuk pertanian.

Untuk itu, Dinas PUPR dan SDA ditugaskan fokus memelihara saluran irigasi. Sementara Dinas Pertanian memetakan daerah rawan gagal tanam dan menyalurkan bantuan sarana produksi.

BPBD bersama TNI-Polri juga diminta siaga mengantisipasi kebakaran lahan dan kekeringan ekstrem. Sinergi ini ditargetkan mencegah penurunan Indeks Pertanaman atau IP petani.

Data Dinas Pertanian mencatat, Sumenep memiliki luas lahan pertanian lebih dari 103.000 hektare. Dengan potensi itu, Sumenep termasuk lumbung pangan strategis di Jawa Timur.

Komoditas unggulan yang dikembangkan: padi, jagung, kacang hijau, cabai merah besar, bawang merah, tomat, dan mentimun. Sektor peternakan juga sudah berkembang hingga hampir seluruh kecamatan.

Stabilitas produksi ini juga berdampak ke inflasi daerah. Komoditas cabai dan bawang merah selama ini jadi penyumbang utama gejolak harga.

“Ke depan, Pemkab berkomitmen mengoptimalkan seluruh program penunjang pertanian agar produktivitas lahan tetap stabil meski menghadapi tantangan musim kemarau. Sektor pertanian krusial karena berkaitan langsung dengan ketahanan pangan dan kesejahteraan warga,” ujar Fauzi.

Langkah ini sejalan dengan program ketahanan pangan nasional yang menargetkan swasembada di tingkat daerah.(itn)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *