Kampung Tapakerbau dan Legenda Kultivator yang Bertapa di Perut Kerbau

FOTO: Ilustrasi by AI Generated

Dinarasikan oleh: Dr. Ahmad Shiddiq, S.Pd.I., M.Pd.I (Dosen Universitas PGRI Sumenep, Ketua RT, Tokoh Masyarakat Kampung Tapakerbau, Desa Gersik Putih, Kec. Gapura, Kab. Sumenep)

 

Fragmen Cerita Tutur di Pesisir Sumenep.

Bagi masyarakat Madura, khususnya di Kabupaten Sumenep, sejarah tidak hanya ditulis di atas lembaran kertas, tetapi juga dirawat melalui ingatan kolektif yang diwariskan dari mulut ke mulut.

Salah satu kisah tutur yang paling memikat dan penuh misteri dapat ditemukan di ujung selatan Desa Gersik Putih, Kecamatan Gapura. Di sana berdiri sebuah pemukiman yang dikenal dengan nama Kampung Tapakerbau. Secara administratif, wilayah ini merupakan bagian dari Dusun Gersik Putih Barat. Di balik ketenangan suasananya, kampung ini menyimpan sebuah legenda tidak biasa mengenai asal-usul namanya.

Jika sebagian besar orang mengira nama Tapakerbau merujuk pada seekor hewan yang melakukan ritual meditasi, masyarakat adat dan para sesepuh setempat menyimpan versi penafsiran yang jauh lebih mistis dan mendalam. Bagi mereka, nama ini bukan sekadar tentang seekor kerbau, melainkan tentang tirakat seorang manusia spiritual, seorang petapa sakti yang memilih tempat tersembunyi dan tidak lazim untuk mendekatkan diri kepada Sang Pencipta yaitu di dalam perut seekor kerbau.

FOTO: Kampung Tapakerbau, Desa Gersik Putih, Kecamatan Gapura, Kabupaten Sumenep (dok./beritakan.co.id)

 

Kisah Mistis Sang Petapa

Alkisah, pada zaman dahulu kala ketika wilayah pesisir Gersik Putih masih berupa hutan bakau yang sepi dan jarang dijamah manusia, datanglah seorang penjelajah spiritual atau petapa ke kawasan tersebut. Sang petapa mencari tempat yang benar-benar terisolasi dari hiruk-pikuk duniawi agar laku tirakatnya tidak terganggu oleh pandangan manusia maupun godaan dunia.

Dalam dimensi realitas gaib yang dipercayai masyarakat, sang petapa menggunakan karomah atau ilmu spiritualnya untuk masuk dan menetap di dalam perut seekor kerbau yang berada di wilayah tersebut. Kerbau tersebut bertindak layaknya wahana sekaligus pelindung bagi sang petapa.

Selama berbulan-bulan, kerbau itu tampak diam, terpaku di tepi teluk pesisir selatan, seolah ikut mengunci panca inderanya bersama manusia suci yang berada di dalam tubuhnya. Kombinasi antara raga hewan yang tegap dan jiwa manusia yang sedang melakukan meditasi tingkat tinggi menciptakan atmosfer magis yang sangat kuat di kawasan tersebut.

Kejadian ganjil tentang keberadaan seorang petapa di dalam perut kerbau inilah yang menggemparkan para penghuni awal wilayah tersebut. Menghormati keteguhan spiritual yang luar biasa itu, masyarakat kemudian menandai tanah tempat peristiwa tersebut terjadi dengan nama Kampung Tapakerbau.

 

*Tulisan dinarasikan berdasarkan keterangan dari tokoh masyarakat  setempat, K. Moh. Sahe Yusuf, dan Nyai Muhawiyah (Alm)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *