Topeng Gulur: Doa yang Menari dari Larangan Barma.

Di ujung timur Pulau Garam, Sumenep merawat denyut budaya yang diwariskan leluhur.

SUMENEP, beritakan.co.id – Sayangnya, gempuran zaman membuat banyak tradisi Madura meredup, perlahan asing bagi anak muda. Panggung-panggung hiburan modern lebih riuh, sementara suara gamelan tua kian sayup terdengar.

Namun di Desa Larangan Barma, Batuputih Sumenep, satu napas budaya masih berdetak: Topeng Gulur. Ia bukan sekadar tari, melainkan doa yang bergerak. Gerak yang lahir dari tanah, dari keringat petani, dari keyakinan bahwa alam dan manusia tak pernah putus ikatannya.

Topeng Gulur adalah cara warga mengetuk langit mempersembahkan sujud syukur atas rezeki tanah yang subur kepada Sang Khalik.

Setiap hentakan kaki adalah zikir. Setiap denting gungseng adalah amin yang diaminkan bumi.

Syaf Anton, budayawan senior, menyebut Topeng Gulur punya takhtanya sendiri. Berbeda dari Topeng Dalang Madura yang bebas menghibur di panggung mana pun, Topeng Gulur hanya turun saat ruang dan waktu telah disucikan. “Ia ritual, bukan tontonan bebas, karena yang sakral tak boleh diobral.” tegasnya.

Tiga sosok hadir di arena. Wajah mereka tertutup topeng merah yang keras dan berwibawa, simbol keberanian menjaga marwah tradisi. Ikat kepala merah mengikat rambut hitam panjang dari pintalan benang, melambangkan akar yang tak boleh tercerabut. Tubuh dibalut rompi hitam bermanik, dada terhias kalung bunga yang jatuh hingga perut sebagai lambang kesuburan. Di pinggang melingkar sabuk, di kaki terpasang gungseng yang berdenting mengiringi langkah, seakan memanggil roh leluhur untuk turut menyaksikan.

Saronen pun mengalun. Nadanya tak serupa dengan musik Madura lain. Irama itu khusus, berat, dan khidmat, menjaga jarak antara yang profan dan yang ilahi.

Kini, Topeng Gulur berdiri di persimpangan. Jika tak diwariskan, ia hanya akan jadi cerita di buku tua. Padahal di balik topeng itu, ada filosofi tentang syukur, tentang hubungan manusia dengan tanahnya, tentang cara Madura memuliakan Sang Pencipta.

Merawat Topeng Gulur bukan sekadar melestarikan tarian. Tapi menjaga cara kita berterima kasih pada hidup. (hfw)

 

KET. FOTO: Topeng Gulur, Simbol syukur atas berkah bumi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *