Tekan AKB, Dinkes P2KB Sumenep Gencarkan Skrining Bayi Baru Lahir Lewat Program CKG di Guluk-Guluk

Suasana sosialisasi skrining bayi baru lahir kepada ibu hamil dan kader yang digelar Dinkes P2KB Sumenep di Balai Desa Bragung, Guluk-Guluk, Selasa (18/8/26).(dok/DinkesP2KBSumenep)

SUMENEP, beritakan.co.id – Komitmen menekan Angka Kematian Bayi (AKB) terus diperkuat Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dinkes P2KB) Kabupaten Sumenep. Melalui Tim Kerja Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) Bidang Kesehatan Masyarakat, Dinkes P2KB menggelar Sosialisasi Skrining Bayi Baru Lahir kepada ibu hamil dan kader kesehatan.

Kegiatan strategis tersebut dilaksanakan pada Selasa (18/8/2026) di Balai Desa Bragung, Kecamatan Guluk-Guluk, dengan sasaran kader Posyandu Integrasi Layanan Primer (ILP), ibu hamil, dan bidan desa.

Program ini merupakan implementasi nyata dari Permenkes Nomor 10 Tahun 2024 tentang Skrining Bayi Baru Lahir, yang kini terintegrasi sebagai bagian wajib dari 14 jenis skrining dalam program nasional Cek Kesehatan Gratis (CKG) pada bayi baru lahir.

Kepala Dinkes P2KB Kabupaten Sumenep, dr. Ellya Fardasah, M.Kes., menegaskan bahwa skrining ini adalah investasi masa depan anak

Peserta sosialisasi skrining bayi baru lahir bersama Timker KIA Dinkes P2KB Sumenep berfoto bersama usai kegiatan.

“Skrining bayi baru lahir adalah ikhtiar kita mendeteksi dini kelainan bawaan yang tidak tampak kasat mata. Sampel darah tumit yang diambil pada usia emas 24 hingga 72 jam setelah lahir sangat menentukan. Ada penyakit seperti Hipotiroid Kongenital dan defisiensi G6PD yang jika terlambat ditangani bisa menyebabkan kecacatan permanen, stunting, bahkan kematian. Jika terdeteksi dini, penanganannya cepat dan anak bisa tumbuh normal,” terang dr. Ellya.

Menurutnya, keberhasilan program ini tidak hanya bergantung pada tenaga kesehatan, tetapi juga pada kesiapan orang tua dan peran aktif kader.

“Saya minta para ibu hamil tidak takut dan tidak menolak. Ini gratis, aman, dan untuk kebaikan bayi. Dan kepada para kader, saya titip pesan, jadilah agen edukasi terbaik di tingkat RT/RW. Bantu kami data ibu yang mendekati HPL dan motivasi keluarga agar mau diskrining,” tegasnya.

Tujuan Sosialisasi Dibagi Dua:
Bagi Ibu Hamil: Meningkatkan literasi tentang bahaya gangguan bawaan tersembunyi, kesiapan psikologis menyetujui tes medis, dan pentingnya waktu ideal pengambilan sampel.
Bagi Kader: Penguatan peran sebagai penyambung lidah tenaga medis, pendataan ibu hamil mendekati Hari Perkiraan Lahir (HPL), dan kemampuan melakukan konseling agar tidak ada penolakan skrining.

Dinkes P2KB Sumenep berharap, melalui sosialisasi berjenjang hingga ke balai desa ini, cakupan skrining di wilayah daratan dan kepulauan dapat merata dan target zero kematian bayi akibat kelainan bawaan yang terlambat terdeteksi dapat terwujud.(de)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *