Daerah  

Sumur Bor Turunkan Status Kekeringan di Sumenep dari Kritis ke Langka

FOTO: Ilustrasi (do./meta ai)

SUMENEP, beritakan.co,id – Program pengeboran sumur bor di Kabupaten Sumenep mulai menunjukkan hasil. Status sejumlah desa yang sebelumnya masuk kategori kekeringan kritis kini turun menjadi kekeringan langka setelah ditemukan sumber air baru.

Sekretaris BPBD Kabupaten Sumenep Abd. Kadir menyampaikan hal itu pada Sabtu, 4 Juli 2026. Keberhasilan ini, katanya, merupakan buah kerja sama BPBD bersama Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (PUTR) serta Kodim Sumenep. Pembangunan sumur bor difokuskan pada wilayah yang setiap tahun krisis air bersih saat musim kemarau.

“Desa-desa yang dulunya kekeringan kritis kini statusnya membaik menjadi kering langka setelah sumur bor dibangun. Program ini akan terus berlanjut untuk meningkatkan akses air warga dan mengurangi ketergantungan pada bantuan air bersih,” jelas Abd. Kadir.

Ia menegaskan sumur bor dipilih sebagai solusi jangka panjang mitigasi kekeringan. Pendekatan ini menyasar desa-desa langganan kekeringan setiap kemarau.

Berdasarkan data BPBD, sebanyak 76 desa di 19 kecamatan di Sumenep berpotensi terdampak kekeringan pada musim kemarau 2026. Penetapan mengacu pada Keputusan Bupati Sumenep Nomor 100.3.3.2/185/KEP/013/2026 tentang Status Siaga Darurat Bencana Kekeringan Tahun 2026.

Keputusan itu membagi wilayah rawan ke empat kategori: kering kritis, kering langka, kering langka terbatas, dan kering langka kritis.

Pemetaan BPBD mencatat wilayah rawan tersebar di daratan dan kepulauan.
Daratan: Manding, Pasongsongan, Rubaru, Pragaan, Ganding, Guluk-Guluk, Ambunten, Batang-Batang, Batuputih, Saronggi.
Kepulauan: Arjasa, Kangayan, Gayam, Raas, Giligenting, Talango, Masalembu, Nonggunong, Sapeken.

Sambil menunggu sumur bor rampung, BPBD menyiapkan distribusi air bersih untuk desa berstatus kering kritis. Mengacu pola tahun sebelumnya, kebutuhan air bersih biasanya naik sekitar satu bulan setelah kemarau mulai.

“Pemetaan seluruh wilayah terdampak sudah selesai. Menjelang puncak kemarau, distribusi bantuan akan diprioritaskan ke desa kering kritis agar kebutuhan dasar masyarakat tetap terpenuhi,” ujar Abd. Kadir.

BPBD memastikan pembangunan sumber air baru akan berkelanjutan. Ini menjadi bagian strategi jangka panjang untuk memperkuat ketahanan air masyarakat di kawasan rawan kekeringan.(itn)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *