Daerah  

Bappeda Sumenep: Jadikan MCF#4 Stategis Penguatan Ekonomi Lokal dan Pengentasan Kemiskinan

FOTO: Dibalik megahnya stand Bappeda di MCF#4. Kepala Bappeda Kabupaten Sumenep, Dr. Ir. Arif Firmanto, S.TP., M.Si., IPU., ASEAN Eng, Bappeda menempatkan MCF#4 sebagai strategi penguatan ekonomi lokal dan pengentasan kemiskinan melalui pemberdayaan UMKM. (dok/Bappeda)

SUMENEP, beritakan.co.id – Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Bappeda Kabupaten Sumenep menempatkan Madura Culture Festival #4 atau MCF#4 sebagai strategi utama penguatan ekonomi kerakyatan. Event ini dinilai efektif menggerakkan UMKM sekaligus membuka jalan pengentasan kemiskinan di daerah.

Hal tersebut disampaikan Kepala Bappeda Sumenep, Dr.Ir.Arif Firmanto, S.TP., M.Si., IPU., ASEAN Eng saat meninjau stand pameran MCF#4 di Stadion A. Yani GOR Selasa 30/8/2026.

“MCF#4 tahun ini sudah naik kelas. Ini bukan sekadar festival budaya, tapi etalase potensi Sumenep yang dikemas dengan narasi ekonomi. Kami lihat kolaborasi pemerintah, pelaku budaya, dan UMKM berjalan sangat nyata,” ujar Arif

Menurut Arif, peran Bappeda ada di dua lini penting: perencanaan dan penganggaran. “Secara perencanaan, kami pastikan MCF masuk dalam RKPD agar punya keberlanjutan dan tidak berhenti di event saja. Secara anggaran, kami dorong untuk pelatihan, kurasi produk, fasilitasi legalitas, dan promosi,” jelasnya.

Tahun ini Bappeda mendorong keterlibatan luas pelaku UMKM dari 27 kecamatan untuk terlibat dalam rangkaian MCF#4. Fokus kami bukan hanya jumlah transaksi, tapi memastikan setiap pelaku dapat akses pasar, relasi, dan pendampingan lanjutan.

“Ini sejalan dengan visi Bupati Sumenep untuk memperkuat sektor riil dan menurunkan angka kemiskinan melalui ekonomi kreatif berbasis budaya,” tegasnya.

Arif menyebut event berbasis UMKM seperti MCF punya dampak langsung ke masyarakat. Perputaran uang terjadi di level pedagang kecil, pengrajin, hingga pelaku ekraf.

“Ketika UMKM tumbuh, lapangan kerja terbuka. Itu jalan paling efektif untuk menekan kemiskinan. Dari evaluasi tahun lalu, ada pelaku batik dari Ganding yang omzetnya naik 3 kali lipat dan bisa ekspor setelah bertemu buyer di MCF. Itu yang ingin kita replikasi,” ungkapnya.

Agar momentum tidak berhenti, Bappeda menyiapkan 3 program tindak lanjut.
Pertama, hilirisasi produk. Kedua, digitalisasi UMKM. Ketiga, akses pembiayaan dan kemitraan.

“Ke depan kami fokus inkubasi bisnis, fasilitasi sertifikasi PIRT dan halal, serta menghubungkan UMKM dengan marketplace dan buyer nasional. Tujuannya satu, UMKM Sumenep naik kelas dan bisa bersaing,” kata Arif.

Program ini akan disinergikan dengan OPD terkait, BUMD, perbankan, dan komunitas agar pembinaan berjalan berkelanjutan.

Ke depan, Bappeda berharap MCF bisa menjadi brand ekonomi Sumenep dengan skala regional hingga nasional.

“Harapan kami MCF semakin besar, kurasinya semakin kuat, dan jejaring pasarnya semakin luas. Ini harus jadi agenda tahunan yang berdampak,” harapnya.

Ia juga menitip pesan kepada pelaku UMKM.
“Bapak Ibu terus jaga kualitas, kemas produk dengan identitas Sumenep, dan manfaatkan digital. Pemerintah hadir mendampingi. Mari jadikan budaya sebagai mesin ekonomi kita bersama,” pungkasnya.(EG)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *