Rp7,8 Miliar untuk Kelompok Petani Upaya DKPP Sumenep Dongkrak Produktivitas Pertanian

FOTO : Kepala DKPP Sumenep Chainur Rasyid, S.E., M. Si. (dok/DKPP)

SUMENEP, beritakan.co.id –Untuk mendongkrak produksi dan kemandirian petani, Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Sumenep kembali menyalurkan dana hibah. Tahun ini, anggaran Rp7.885.000.000 disalurkan kepada 54 Kelompok Tani yang tersebar di sejumlah kecamatan.

Kepala DKPP Sumenep, Chainur Rasyid, S.E., M.Si, menyebut langkah ini sebagai bentuk keberpihakan nyata pemkab terhadap sektor pertanian. “Ini bukan sekadar bansos. Ini investasi daerah supaya pertanian Sumenep naik kelas. Produktif, punya daya saing, dan bisa menjamin pangan masyarakat sendiri,” ujarnya kepada media, Kamis (11/9/2026).

Tidak semua Poktan menerima jumlah yang sama. Dalam skema tahun ini, besaran hibah bervariasi mulai dari Rp12.500.000, Rp50.000.000, Rp75.000.000, Rp100.000.000, Rp195.000.000, hingga yang terbesar Rp1,5 miliar. Chainur menjelaskan, perbedaan itu sengaja dibuat. Tim DKPP menilai dulu proposal, jenis kegiatan, skala usaha, dan seberapa besar dampaknya ke komoditas strategis.
“Ada Poktan yang butuh alsintan dan sarana produksi. Ada juga yang membangun unit pengolahan hasil. Jadi kami sesuaikan. Tujuannya biar tepat sasaran dan tidak asal bagi rata,” jelasnya.

DKPP menegaskan dana hibah tidak diberikan begitu saja. Poktan wajib mengantongi dua hal utama: sertifikat kelembagaan yang sah dan proposal lengkap berisi rencana kegiatan, RAB, serta tujuan penggunaan dana.
Setelah berkas masuk, tim turun ke lapangan. Mereka mengecek legalitas, keberadaan kelompok, kapasitas pengurus, dan kelayakan usulan. Dari hasil verifikasi inilah ditetapkan penerima melalui Surat Keputusan.
“Prosesnya berjenjang dan bisa dipertanggungjawabkan. Kami hanya salurkan ke Poktan yang aktif, tertib administrasi, dan benar-benar siap mengembangkan usaha,” tegas Chainur. Jumlah penerima pun fluktuatif tiap tahun. Besar kecilnya sangat tergantung pada kapasitas APBD dan prioritas pembangunan daerah.
Inti dari program ini ada 3: meningkatkan produktivitas, memperkuat kelembagaan Poktan, dan memastikan petani punya akses ke sarana pertanian. Bentuknya bisa benih, pupuk, alsintan, sampai sarana pascapanen.

Harapannya sederhana. Kalau Poktan kuat, petani di dalamnya ikut kuat. “Dengan kelembagaan yang solid, petani bisa nekan biaya produksi, punya posisi tawar di pasar, dan nilai jual produknya naik,” kata Chainur. Agar tidak jadi “bantuan angin lalu”, DKPP juga rutin melakukan monitoring dan evaluasi. Tim diterjunkan untuk mengecek kesesuaian penggunaan dana dengan proposal, perkembangan kegiatan, sekaligus memberi pendampingan teknis.
“Kami kawal dari awal sampai akhir. Ada laporan, ada pembinaan, ada evaluasi. Supaya manfaatnya terasa jangka panjang, bukan hanya saat dana cair,” pungkasnya.

Pemkab Sumenep menargetkan, lewat suntikan dana ini, sektor pertanian bisa terus tumbuh dan memberi dampak langsung ke lebih dari 100 ribu rumah tangga petani di Sumenep.(Eg)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *