Daerah  

Peringati Hari Batik Nasional 2026, Kepala Bappeda Sumenep Arif Firmanto Soroti Ketelitian dan Integritas ala Pembatik

Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Sumenep, Dr. Ir. Arif Firmanto, S.TP.,M.Si., IPU., ASEAN Eng.

SUMENEP, beritakan.co.id – Peringatan Hari Batik Nasional yang jatuh pada 2 Oktober 2026 menjadi momentum penting untuk merefleksikan kembali makna batik bukan hanya sebagai warisan budaya, melainkan sebagai filosofi pembangunan yang berintegritas, teliti, dan berkelanjutan. Pesan mendalam tersebut disampaikan oleh Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Sumenep, Dr. Ir. Arif Firmanto, S.TP.,M.Si., IPU., ASEAN Eng.

Menurutnya, Batik Tulis Sumenep memiliki nilai filosofi yang sangat relevan dengan tugas pokok Bappeda sebagai dapur perencanaan pembangunan daerah. Sebuah perencanaan yang baik, seperti halnya proses membatik, membutuhkan ketelitian, kesabaran, dan konsistensi untuk menghasilkan karya yang indah dan bernilai tinggi.

“Selamat Hari Batik Nasional 2 Oktober 2026. Batik Sumenep Warisan Luhur, Inspirasi Pembangunan yang Berintegritas dan Berbudaya. Setiap goresan canting adalah cerminan ketelitian dan kesabaran. Begitu pula dalam merencanakan pembangunan, setiap data, setiap program harus dirangkai dengan presisi, hati-hati, dan berintegritas agar hasilnya benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat,” ujar Arif Firmanto.

Sosok perencana yang dikenal visioner dan detail tersebut menegaskan bahwa batik mengajarkan tentang pentingnya menjaga pakem dan konsistensi. Dalam konteks pembangunan, pakem tersebut adalah koridor RPJMD, visi-misi Bismillah Melayani, dan prinsip tata kelola yang bersih dan akuntabel.

“Batik itu tidak bisa instan. Dibutuhkan proses yang panjang, dari membuat pola, mencanting, mewarnai, hingga menjadi sebuah karya agung. Filosofi ini yang kami pegang di Bappeda. Pembangunan Sumenep yang Unggul, Mandiri, dan Sejahtera tidak bisa dibangun secara instan, melainkan melalui perencanaan yang matang, terukur, dan berkelanjutan dengan tetap berpijak pada kearifan lokal,” jelasnya.

Lebih lanjut, ia menambahkan bahwa Batik Sumenep adalah kebanggaan sekaligus kekuatan ekonomi kerakyatan. Motif-motif adiluhung seperti Sekar Jagat yang melambangkan keindahan semesta, motif Rusa, hingga motif Keraton Sumenep yang sarat makna sejarah, harus terus dilestarikan dan dikembangkan sebagai identitas sekaligus penggerak UMKM.

“Di balik selembar Batik Tulis Sumenep, ada tangan-tangan terampil para pengrajin, ada ekonomi keluarga yang berputar, ada budaya yang terjaga. Tugas kita di Bappeda adalah memastikan warisan luhur ini masuk dalam skema perencanaan pengembangan ekonomi kreatif dan pelestarian budaya, sehingga pengrajin kita sejahtera dan batik kita semakin mendunia,” tegasnya.

Ia juga mengajak seluruh Aparatur Sipil Negara (ASN) di lingkungan Pemerintah Kabupaten Sumenep untuk menjadikan momentum Hari Batik Nasional sebagai pengingat untuk bangga memakai produk lokal.

“Mari kita bangga mengenakan Batik Tulis Sumenep. Ini bukan sekadar busana, ini adalah identitas kita, jati diri kita sebagai orang Sumenep. Dengan memakai batik lokal, kita telah ikut melestarikan budaya, mendukung UMKM, dan menguatkan ekonomi kerakyatan,” imbuhnya.

Di akhir pernyataannya, Kepala Bappeda Sumenep tersebut berharap semangat batik dapat menjadi inspirasi dalam setiap perencanaan pembangunan daerah.

“Mari kita rawat batik dengan perencanaan yang berintegritas. Mari kita bangun Sumenep dengan hati yang berbudaya. Karena dari ketelitian canting, kita belajar tentang presisi, dan dari keindahan batik, kita belajar bahwa pembangunan yang baik haruslah indah hasilnya dan bermakna bagi masyarakat,” pungkasnya. (Nt)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *