SUMENEP, beritakan.co.id – Sebanyak 90 karya majalah dinding (Mading) hasil kreativitas siswa dipamerkan dalam kegiatan Pameran Mading Karya Hasil Belajar yang diselenggarakan oleh Komunitas Belajar Ibnu Khaldun IPS SMAN 2 Sumenep, Jumat (30/10/2026).
Mengusung tema “Potret Masyarakat dalam Imajinasi dan Kreasi”, kegiatan yang melibatkan seluruh siswa kelas X dan XI IPS ini menjadi bagian dari upaya menghadirkan pembelajaran yang kreatif, kontekstual, dan dekat dengan realitas kehidupan masyarakat.
Tidak sekadar ajang unjuk kreativitas, pameran ini juga dikemas dalam bentuk festival karya seni sebagai bagian dari rangkaian kegiatan memperingati Hari Jadi Kabupaten Sumenep.
Kepala SMAN 2 Sumenep, Agung Setiawan, S. Pd mengapresiasi kreativitas siswa yang mampu mengolah pengetahuan menjadi karya yang kritis.

“Pameran 90 mading ini adalah bukti bahwa pembelajaran di SMAN 2 Sumenep tidak berhenti di dalam buku. Ketika siswa mampu mengangkat isu kemiskinan, kesenjangan sosial, hingga budaya korupsi ke dalam sebuah karya, itu artinya nalar kritis dan kepekaan sosial mereka tumbuh. Inilah tujuan kami, sekolah menjadi ruang tempat pengetahuan bertemu kreativitas,” ujar Agung Setiawan.
Menurutnya, pemilihan tema sangat tepat untuk mendekatkan pembelajaran dengan jati diri lokal.
“Tema ‘Potret Masyarakat dalam Imajinasi dan Kreasi’ merepresentasikan semangat kami. Masyarakat menjadi sumber inspirasi sekaligus objek refleksi. Saya bangga karena siswa juga mengangkat sejarah Kemaduraan dan asimilasi budaya. Ini menunjukkan bahwa lingkungan sekitar dapat menjadi sumber belajar yang kaya dan relevan, apalagi dalam momentum Hari Jadi Sumenep,” tegasnya.
Kegiatan berlangsung dalam dua sesi. Sesi pagi diisi dengan pameran karya yang menampilkan sekitar 90 mading hasil kreasi siswa. Beragam isu diangkat melalui pendekatan visual dan narasi kreatif. Mulai dari kemiskinan, kesenjangan sosial, kenakalan remaja, hingga perundungan (bullying). Tidak hanya persoalan sosial kontemporer, siswa juga mengeksplorasi tema sejarah Kemaduraan, asimilasi budaya, serta budaya korupsi.

Keragaman tema tersebut memperlihatkan luasnya ruang eksplorasi pembelajaran IPS. Siswa tidak hanya diajak memahami konsep-konsep dalam buku pelajaran, tetapi juga menghubungkannya dengan persoalan yang hadir di tengah masyarakat. Berbagai fenomena yang selama ini mungkin hanya mereka temui dalam pemberitaan atau lingkungan sekitar, diolah kembali menjadi karya yang menyampaikan pesan dan sudut pandang mereka sendiri.
Sementara itu, sesi sore diisi dengan presentasi kelompok. Setiap kelompok berkesempatan memaparkan gagasan, proses kreatif, serta pesan yang ingin disampaikan. Sesi ini menjadi bagian penting karena siswa tidak hanya dituntut menghasilkan karya, tetapi juga mampu mempertanggungjawabkan gagasan, menyampaikan argumentasi, dan mengkomunikasikan hasil pemikiran kepada orang lain.
Melalui kegiatan ini, Komunitas Belajar Ibnu Khaldun IPS SMAN 2 Sumenep berupaya memperluas makna pembelajaran. IPS tidak semata-mata dipahami sebagai mata pelajaran yang berisi teori, konsep, dan hafalan, melainkan sebagai ilmu yang membantu siswa membaca kehidupan dan menumbuhkan kepekaan terhadap persoalan sosial.
Lebih jauh, kegiatan ini juga menjadi ruang apresiasi terhadap keberagaman potensi siswa. Ada proses pengamatan, diskusi, pengolahan informasi, kerja sama, hingga keberanian menyampaikan pendapat yang berlangsung di balik karya-karya tersebut.
Pada akhirnya, pameran ini bukan semata-mata tentang 90 mading yang dipajang. Lebih dari itu, terdapat upaya menumbuhkan generasi muda yang tidak hanya mampu memahami pelajaran, tetapi juga peka terhadap lingkungan sosial, berani menyampaikan gagasan, dan memiliki kepedulian terhadap kehidupan masyarakat.
(Nt)












