FOTO: Advokat Marlaf Sucipto, S.H.I (dok/marlafsucipto)
SUMENEP, beritakan.co.id – Proyek perbaikan insfrastruktur jalan di Sumenep, khususnya di ruas jalan Lenteng – Rubaru, mendapat perhatian serius dari advokat putra daerah setempat, Marlaf Sucipto.
Marlaf, membuat catatan khusus melalui akun facebook pribadinya dengan judul “Perbaikan Jalan Lenteng-Mandala, Mari Kawal Bersama, Tretan” yang diunggah pada hari Rabu (26/08) malam. Tulisan secara khusus juga dikirim ke redaksi beritakan.co.id.
Mula-mula, marlaf menyampaikan rasa syukur atas dedikasi Bupati Sumenep, Achmad Fauzi Wongsojudo yang akhirnya melakukan perbaikan di ruas jalan tersebut.
“Saya bersyukur, di jabatan terakhir Bapak Fauzi Wongsojudo sebagai Bupati Sumenep, infastruktur berupa jalan raya yang sering di-akses oleh warga masyarakat desa Lenteng Timur, Ellak-Laok, Ellak-Daya, Lenteng Barat, Mandala, akhirnya dilakukan perbaikan,” tulis Marlaf.
“Berikutnya, tinggal akses jalan dari Desa Ellak-Laok yang tembus ke desa Lenteng Barat yang juga perlu dilakukan perbaikan,” lanjutnya.
Mantan aktifis Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) itu meminta agar proyek infrastruktur ke barat Congapan Lenteng yang tembus sampai ke Rubaru itu tak hanya fokus pada perbaikan jalan. tetapi juga memperlebar ruas antara 3 hingga 3.50 meter lengkap dengan perbaikan saluran drainasenya.
Apalagi, menurut advokat yang terkenal gigih memperjuangkan hak-hak wong cilik itu, dana yang dianggarkan cukup besar mencapai 16 miliar lebih berdasarkan data yang diaksesnya dari Lembaga Pengadaan Secara Elektronik (LPSE).
“Untuk jalan, sepanjang ingatan saya, sudah dua kali dilakukan perbaikan secara swadaya oleh masyarakat. Pemilik usaha jaringan Wifi asal Ellak-Daya, BarokahNet, pada perbaikan yang kedua, nyumbang sampai 80 juta rupiah,” katanya seraya memberikan referensi riwayat perbaikan jalan di ruas tersebut.
“Perbaikan secara swadaya daya itu, tidak mampu bertahan lama. Jalan raya kembali nabuy ataltalan,” lanjutnya
Ia juga menjelaskan jalan raya yang cepat rusak juga dipengaruhi oleh pembangunan drainase yang tidak presisi, yang terkesan asal bangun, asal ada, disfungsi, tidak kompatibel dengan jalan raya.
“Drainase-drainase itu tidak berfungsi secara optimal karena penataannya lebih tinggi dari jalan raya. Saat ada air dan/atau saat musim hujan, air-air itu rata-rata tetap menggenang di jalan raya. Pengawas pembangunan drainase ini, saya duga ‘mabuk’ dan/atau dibuat ‘mabuk’ sehingga tak bisa memberikan koreksi yang memadai pada pembangunan tersebut,” tegasnya.
Lebih lanjut ia berharap drainase yang dibangun betul-betul didasarkan atas kajian yang matang.
“Saat ada air, air-air itu dapat mengalir ke salurannya, bukan mengenang di tengah jalan,” kata Alumni IAIN Sunan Ampel (kini UINSA) surabaya itu.
Untuk itu advokat bergaya santai itu memohon dengan tegas kepada pemenang tender proyek perbaikan infrastruktur agar proyek perbaikan jalan betul-betul dilaksanakan secara baik dan benar. Sekurang-kurangnya, dikerjakan sesuai standar ketentuan yang ada.
“Mohon untuk tidak DIKORUPSI secara ugal-ugalan. Supaya APBD berikutnya, dapat digunakan untuk melakukan perbaikan atas infrastruktur lain yang perlu dilakukan perbaikan,” tegasnya
Maksimalkan Peran Kepala Desa
Dalam konteks pelebaran jalan, Marlaf menyampaikan adanya pemberitaan yang mengafirmasi bahwa pelebaran jalan itu, ada beberapa titik yang diduga dilakukan secara seenaknya tanpa dikomunikasikan dan/atau dikoordinasikan secara baik kepada pemilik lahan/bangunan.
“Tolong pemerintah, komunikasikan baik-baik. Maksimalkan pemerintah desa untuk mengkomonikasikan hal tersebut secara baik. InsyaAllah warga yang tanah/bangunannya terdampak dari pelebaran jalan ini, akan welcome. Lalui secara baik sesuai tatakrama orang Sumenep. Jangan main hajar-hantam aja,” tegasnya.
Ia meminta agar pembangunan infrastruktur benar-benar dilakukan secara serius, tidak asal bangun. Melainkan dilaksanakan melalui kajian dan perencanaan yang matang.
“Kita ini sudah merdeka selama 81 tahun. Masak kualitas infrastruktur yang kita bangun itu jauh lebih buruk dari kondisi infrastruktur peninggalan Belanda yang sampai kini masih banyak yang berdiri kokoh itu,” katanya
“Bila infrastruktur terus dibangun secara ugal-ugalan, sejatinya, yang penjajah itu kita apa Balanda, Tretan?” tutupnya seraya mengajak berfikir. (red)












