Daerah  

Gerakkan Urat Nadi Ekonomi Desa, Pemkab Sumenep Akan Reaktivasi Tiga Pasar Hewan Strategis di Dasuk, Rubaru dan Gapura

Pemkab Sumenep resmi akan mereaktivasi pasar hewan, salah satunya untuk meningkatkan aktivitas perdagangan ternak sapi dan kambing milik warga.(dok/DKUPP)

SUMENEP, beritakan.co.id – Pemerintah Kabupaten Sumenep melalui Dinas Koperasi, Usaha Kecil Menengah, Perindustrian dan Perdagangan (Diskop UKM dan Perindag) mengambil langkah strategis untuk mengembalikan kejayaan sektor peternakan rakyat. Tiga pasar hewan yang menjadi pusat transaksi jual beli ternak di tingkat kecamatan yang sempat vakum, akan segera direaktivasi dan digerakkan kembali.

Tiga pasar hewan tersebut berada di Kecamatan Dasuk, Kecamatan Rubaru, dan Kecamatan Gapura. Ketiganya selama ini menjadi simpul ekonomi utama bagi peternak di wilayah timur, tengah, dan utara daratan Sumenep.

Kepala Diskop UKM dan Perindag Kabupaten Sumenep, H. Moh. Ramli, S. Sos., M. Si menegaskan bahwa reaktivasi pasar hewan ini merupakan atensi dan instruksi langsung dari pimpinan daerah sebagai bagian dari penguatan ekonomi kerakyatan berbasis potensi lokal.

“Reaktivasi pasar hewan ini adalah instruksi langsung dari pimpinan daerah. Tujuannya jelas, untuk menggerakkan kembali geliat ekonomi masyarakat di sektor peternakan. Pasar hewan ini adalah urat nadi ekonomi peternak. Jika pasarnya mati, maka ekonomi peternak juga ikut melambat,” ujar Moh. Ramli dengan nada tegas.

Menurut Ramli, keberadaan pasar hewan memiliki posisi yang sangat vital dan tidak tergantikan. Selama pasar tidak aktif, peternak di beberapa kecamatan mengalami kesulitan untuk mendapatkan lokasi transaksi yang layak, aman, dan memiliki kepastian harga.

“Selama ini transaksi dilakukan secara individu dari kandang ke kandang, door to door. Akibatnya, harga tidak terkontrol, posisi tawar peternak menjadi lemah, dan peternak seringkali dirugikan oleh tengkulak. Dengan adanya pasar hewan, kita kembalikan mekanisme pasar yang adil, transparan, dan kompetitif,” jelasnya.

Lebih jauh, Ramli menjelaskan bahwa pasar hewan bukan sekadar tempat jual beli, melainkan ekosistem ekonomi yang lengkap. Di sanalah terjadi pertemuan langsung antara peternak sebagai produsen, pedagang sebagai distributor, dan pembeli sebagai konsumen akhir.

“Pasar hewan adalah ruang pertemuan ekonomi yang jujur. Di sana ada interaksi, ada negosiasi, ada edukasi tentang kualitas ternak. Ini yang tidak bisa digantikan oleh transaksi individual,” imbuhnya.

Reaktivasi tiga pasar hewan ini diproyeksikan akan memberikan dampak domino (multiplier effect) yang besar bagi perekonomian kecamatan.

Suasana transaksi jual beli sapi disalah satu pasar hewan di Sumenep yang akan segera direaktivasi oleh Pemkab Sumenep untuk mendorong pemulihan ekonomi peternak.(dok/DKUPP)

Pertama, pendapatan peternak akan meningkat karena harga menjadi lebih kompetitif dan terkontrol. Kedua, ketika pasar hewan ramai, maka ekonomi di sekitar pasar akan ikut bergerak. Warung-warung kopi akan buka, jasa transportasi ternak akan hidup, kuli angkut, pakan ternak, hingga jasa parkir akan tercipta.

“Ketika pasar hewan ramai, maka ekonomi kecamatan ikut bergerak. Ini bukan hanya soal jual sapi atau kambing, tapi soal terbukanya lapangan kerja baru di desa. Ekonomi berputar dari desa untuk desa,” tegas mantan Kabag Perekonomian itu.

Ketiga, dari aspek ketahanan pangan dan keagamaan, keberadaan pasar hewan yang aktif akan menjaga ketersediaan stok hewan ternak, terutama menjelang hari-hari besar keagamaan seperti Hari Raya Idul Adha dan Hari Raya Idul Fitri.

“Kita ingin memastikan menjelang Idul Adha, ketersediaan hewan kurban di Sumenep tercukupi, harganya stabil, dan masyarakat tidak kesulitan mencari hewan yang sesuai syariat. Pasar hewan yang aktif adalah kunci stabilitas itu,” paparnya.

Ramli tidak menampik bahwa kunci keberhasilan reaktivasi ini tidak hanya ada di pemerintah. Tanpa partisipasi aktif dari masyarakat, peternak, kepala desa, dan para pelaku usaha ternak, pasar tidak akan hidup.

“Pemerintah sudah membuka jalannya, menyiapkan regulasinya, dan akan melakukan pembenahan fasilitas. Tapi pasar ini tidak akan hidup tanpa partisipasi aktif warga. Kami mengajak seluruh masyarakat, para peternak, pedagang, dan tokoh masyarakat di Dasuk, Rubaru, dan Gapura untuk menyukseskan reaktivasi ini bersama-sama,” ajaknya.

Ia berharap, dengan diaktifkannya kembali pasar hewan di tiga kecamatan tersebut, Sumenep dapat kembali menegaskan jati dirinya sebagai salah satu lumbung ternak terbesar di Jawa Timur.

“Ini adalah ikhtiar kita untuk mengembalikan kejayaan peternakan di kecamatan-kecamatan. Dari pasar hewan yang kecil, kita bangun kemandirian ekonomi yang besar untuk mewujudkan Sumenep Unggul, Mandiri, dan Sejahtera,” pungkasnya.

(Dv)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *