JAKARTA, beritakan.co.id – Badminton indonesia tengah menghadapi masalah serius dari segi prestasi. Kegagalan demi kegagalan dalam meraih prestasi tertinggi seakan mulai menjadi hal lumrah dirasakan oleh badminton lovers di Indonesia.
Hingga bulan mei 2025, Indonesia praktis hanya mampu menyabet gelar tertinggi di level super 500 pada ajang Indonesia Master 2025 melalui Alwi Farhan. Selebihnya, hanyalah gelar level bawah yang tak mampu mengangkat nama indonesia di daftar perolehan gelar sementara, bahkan
Bahkan di level super 300 kebawah pun Tim Bulutangkis Indonesia terasa masih terseok, meski sempat membuat kejutan dengan menjadi juara umum Thailand Master dengan menyabet 4 nomor kecuali tunggal putri. Namun setelahnya, harapan meraih gelar terasa semakin menjauh.
Terbaru, sejarah kelam tercipta melalui Tim Thomas yang bahkan tak mampu lolos ke babaj perempat final. Sialnya, dijegal secara telak oleh Tim yang tidak memiliki sejarah dan tradisi bulutangkis meski Tim Thomas masuk daftar unggulan kedua dibawah China.
Mendapati kenyataan pahit ini, Wakil Ketua Umum PBSI, Taufiq Hidayat hanya bisa meminta maaf dan berjanji melakukan evaluasi.
“Saya selaku pribadi dan sebagai pengurus memohon maaf terhadap hasil yang belum sesuai harapan di Piala Thomas, ” Kata Taufiq.
Mantan atket pelatnas sekaligus peraih medali emas olimpiade Athena itu berjanji akan melakukan evaluasi secara menyeluruh agar bisa meraih hasil lebih baik di masa depan.
“Kami akan melakukan evaluasi menyeluruh, ” tegasnya. Kata-kata pemanis yang seringkali keluar sebagai penghias kekecewaan.
Tetapi apapun, semua tentu berharap rentetan kegagalan ini tidak berlajut di Indonesia open yang akan digelar awal bulan Juni mendatang. Akankah Alwi Farhan dkk mampu membuktikan diri dengan menyabet gelar juara sebagai hasil dari evaluasi PBSI, atau justru semakin jauh terpuruk ke dasar jurang kegagalan? (NS/H)












