Daerah  

Tekan PoU Terendah ke-6 se-Jatim, Kepala DKPP Sumenep: Ini Kerja Kolektif Arahan Bupati Fauzi

Bupati Sumenep Achmad Fauzi Wongsojudo bersama Kepala DKPP Sumenep Chainur Rasyid, saat tinjau inovasi drone pertanian (beberapa waktu lalu), Kerja kolektif arahan Bupati berhasil bawa Sumenep masuk 6 besar terbaik ketahanan pangan se-Jatim.(dok/dkpp)

SUMENEP, beritakan.co.id – Prestasi membanggakan ditorehkan Kabupaten Sumenep di sektor ketahanan pangan. Berdasarkan data resmi Badan Pusat Statistik (BPS) yang dirilis 20 Januari 2026, Kabupaten Sumenep berhasil menempati peringkat ke-6 dari 38 kabupaten/kota se-Jawa Timur dengan angka Prevalensi Ketidakcukupan Pangan (PoU) terendah sebesar 4,63 persen.

Capaian tersebut menempatkan Sumenep dalam daftar 10 besar terbaik se-Jawa Timur, bahkan lebih baik dari Kabupaten Pasuruan, Lamongan, Mojokerto hingga Malang. Angka 4,63 persen tersebut juga jauh di bawah rata-rata nasional yang mencapai 7,89 persen, menegaskan keberhasilan kebijakan pangan di kabupaten kepulauan ini.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Sumenep, Chainur Rasyid, menyampaikan bahwa keberhasilan menekan angka PoU ini tidak lepas dari arahan dan kebijakan Bupati Sumenep Achmad Fauzi Wongsojudo.

“Keberhasilan menekan angka PoU ini adalah kerja kolektif lintas dinas, bukan hasil satu pihak semata. Ini adalah buah dari arahan dan kebijakan Bapak Bupati Achmad Fauzi Wongsojudo yang konsisten dan fokus memperkuat ketahanan pangan hingga ke tingkat desa dan kepulauan,” ujar Chainur Rasyid, Minggu (27/9/2026).

Ia menjelaskan, rilis Badan Pangan Nasional dengan angka 4,63 persen memiliki arti bahwa kurang dari 5 dari setiap 100 penduduk Sumenep berada dalam kondisi kekurangan asupan energi. Proporsi tersebut tergolong sangat kecil jika dibandingkan dengan gambaran nasional.

“Ini bukti program kita tepat sasaran. Program-program penguatan ketahanan pangan di tingkat desa, mulai dari penguatan lumbung pangan desa, pengembangan Pekarangan Pangan Lestari (P2L), Gerakan Pangan Murah di 27 kecamatan, hingga stabilisasi pasokan dan harga pangan akan terus dilanjutkan dan diperkuat pada tahun-tahun berikutnya,” tegasnya.

Lebih lanjut Chainur memaparkan progres yang sangat signifikan dalam satu tahun terakhir. Setahun sebelumnya, PoU Sumenep masih bertengger di angka 6,49 persen. Kini turun menjadi 4,63 persen, terjadi selisih penurunan sebesar 1,86 poin persentase.

“Jika diterjemahkan ke populasi sekitar 1,1 juta jiwa, penurunan 1,86 persen ini berarti sekitar 51.241 penduduk Sumenep yang sebelumnya hidup dengan asupan energi di bawah kecukupan normal, kini telah terangkat dari kondisi tersebut. Jumlahnya memang masih besar, tapi menyusut tajam dibanding tahun sebelumnya. Ini adalah kemajuan yang luar biasa dan harus kita jaga bersama,” pungkas Chainur Rasyid.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *