Daerah  

Sumenep Berhasil Tekan Stunting di Angka 3,2 Persen, Bupati Achmad Fauzi Fokus Pengawalan 1000 HPK untuk Generasi Emas 2045

Bupati Sumenep Achmad Fauzi Wongsojudo (dok/Ist)

SUMENEP, beritakan.co.id – Komitmen Pemerintah Kabupaten Sumenep dalam menangani stunting membuahkan hasil signifikan. Berdasarkan data terbaru Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dinkes P2KB) Kabupaten Sumenep, angka stunting berhasil ditekan secara drastis.

Hingga saat ini, dari total 56.538 anak yang telah diukur, terdapat 1.789 anak yang mengalami stunting atau setara dengan 3,2 persen. Capaian ini menegaskan Sumenep termasuk daerah yang cukup signifikan dalam menekan angka stunting di Jawa Timur.

Bupati Sumenep, Achmad Fauzi Wongsojudo, menegaskan bahwa penanganan stunting tidak akan berhenti dan harus dilakukan secara berkelanjutan dengan kolaborasi lintas sektor.

“Pemkab Sumenep berkomitmen untuk menangani stunting secara berkelanjutan. Ini adalah investasi masa depan daerah. Maka penanganannya membutuhkan keterlibatan banyak unsur, dari Kader Posyandu, tenaga penyuluh, tenaga kesehatan (nakes), hingga Tim Pendamping Keluarga (TPK) yang ada di lapangan,” tegas Bupati Achmad Fauzi.

Bupati menekankan, fokus utama pendampingan harus diarahkan pada kelompok rentan dalam periode 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), yakni ibu hamil, ibu pasca melahirkan dan menyusui, bayi hingga balita.

“Maka dari itu, untuk ibu hamil, ibu pasca lahir dan menyusui, bayi hingga balita menjadi kelompok yang membutuhkan pendampingan paling intensif. Cegah stunting di fase awal kehidupan, dari masa hamil hingga anak masuk periode tumbuh kembang,” jelasnya.

Lebih lanjut, Bupati yang akrab disapa Cak Fauzi itu menyampaikan bahwa persoalan stunting memiliki korelasi langsung dengan visi besar Indonesia Emas 2045. Penanganan stunting hari ini adalah penentu kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) di masa depan.

“Stunting sangat penting dalam menyiapkan Generasi Emas 2045. Kita tidak boleh membiarkan anak-anak kita tumbuh dengan keterbatasan akibat gizi kronis. Anak yang bebas stunting adalah anak yang unggul, sehat, dan mampu bersaing. Ini adalah kunci untuk mewujudkan Sumenep Unggul, Mandiri, dan Sejahtera,” pungkasnya.

Dengan capaian 3,2 persen tersebut, Pemkab Sumenep akan terus memperkuat intervensi spesifik dan sensitif, mulai dari penguatan edukasi gizi, perbaikan sanitasi, hingga pendampingan keluarga berisiko stunting hingga di tingkat desa.(Nt)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *